PEMBELAJARAN SAINS ABAD 21
PEMBELAJARAN SAINS ABAD 21
Pembelajaran pada abad 21 merupakan dilandasi dengan filosofis Postmodernisme. Abad 21 masyarakatnya
telah berkembang menjadi kontemporer dimana pendidikan bukan lagi dalam
kategori modern tetapi sudah diatas modern yaitu postmodern. Perlu adanya
paradigma pembelajaran baru atau yang diperbarui di awal abad 21 ini.
Setidaknya ada tiga paradigma yang perlu kita tilik bersama: kemampuan otak
yang tak hingga, informasi cepat, dan kurikulum seutuhnya.
Paradigma
1: Kemampuan Otak Yang Tak Hingga
Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa otak manusia
terdiri dari bermilyar-milyar sel aktif. Disebutkan, minimal terdiri 100 milyar
sel otak aktif sejak lahir. Masing-masing sel dapat membuat jaringan sampai
20.000 sambungan tiap detik. Yang menakjubkan adalah saat awal kehidupan kita,
otak kita berkembang melalui proses belajar alamiah dengan kecepatan 3 milyar
sambungan perdetik. Sambungan-sambungan ini adalah kunci kekuatan otak.
Sehingga Gordon Dryden menyatakan: “You’re the owner of the world’s
most powerful computer.” (Anda adalah pemilik komputer paling hebat di
dunia-Otak anda).
Dalam buku Quantum Learning dijelaskan
bahwa manusia memiliki tipe-tipe tertentu dalam menyerap dan mengolah
informasi. Manusia digolongkan menjadi tiga tipe dalam menyerap informasi yairu
auditif, visual dan kinestetik. Sementara dalam mengolah informasi ada empat tipe
yairu sekuensial, kongkret, sekuensial abstrak, acak kongkret dan acak abstrak.
Kita mungkin berharap bahwa ada tipe terbaik dibanding tipe yang lain. Sehingga
ada orang yang lebih cerdas. Ternyata tidak ada. Semua tipe adalah baik. Orang
akan cerdas apabila ia menerima dan mengolah informasi sesuai dengan tipenya.
Orang akan tampak ‘bodoh’ bila sistem pendidikan tidak mengakomodasi tipenya.
Dengan demikian, tugas pendidikan adalah mengidentifikasi tipe-tipe anak didik
kemudian menyusun rencana pendidikan yang sesuai karena tidak tepat
memperlakukan semua anak didik dengan cara yang sama.
Selanjutnya, anggapan bahwa kecerdasan manusia diukur dari IQ belaka
sudah tidak lagi memadai. Temuan terakhir malah menyebutkan bahwa kesuksesakn
manusia dan juga kebahagiaannya, ternyata lebih terkait dengan beberapa jenis
kecerdasan selain IQ. Terutama temuan monumental Daniel Goldman tentang Emotional
Intellegence, konsep yang diajukan oleh Howard Gardner mengenai Multiple
Inttellegence, maupun wacana yang diajukan pemikir sekaligus psikolog Danah
Zohar dan suaminya Ian Marshall tentang Intelegensia Spiritual. Seorang
guru yang meyakini bahwa siswa memiliki otak yang tak hingga, senantiasa
mencari cara bagaimana agar siswa mampu mengaktualisasikan potensi itu. Guru
pantang menyerah bila siswa beluam menguasai materi tertentu. Bukan otak siswa
yang tidak mampu. Tetapi gaya guru dan siswa yang belum selaras.
Paradigma
2: Informasi Cepat
Sekarang dunia pendidikan pun sedang bergerak menuju
dunia pendidikan tanpa batas melalui internet. Seluruh siswa di dunia saat ini
dapat berkunjung ke Cambridge University satu saat, dan detik berikutnya
berkunjung ke UI melalui jaringan Internet. Para siswa dapat berdiskusi
langsung dengan para pakar dari IIUM di Malaysia bersama para pakar dari
Universitas Ibnu Khaldun di Bogor.
Teknologi informasi berkembang pesat menjadi salah satu
sarana pembelajaran yang murah dan cepat. Teknologi internet semakin mudah
dioperasikan oleh setiap orang hatta oleh orang awam. Sehingga tidak ada alasan
untuk ketinggalan informasi dan tidak dapat mengejar ketertinggalan belajar.
Dengan demikian, tidaklah bijak jika sistem pendidikan
tidak memanfaatkan kemajuan teknologi informasi yang semakin berkembang seperti
hari ini. Karena hanya manusia pembelajar yang mampu bertahan dan berkembang di
zaman mutakhir ini. Manusia pembelajar adalah manusia yang mampu belajar
efektif sepanjang hidupnya.
Paradigma 3: Kurikulum Seutuhnya
Bateson menyatakan ada empat level pembelajaran. Level
pertama adalah pembelajaran tentang objek. Bagaimana sesuatu
beradaptasi. Termasuk dalam level ini adalah matematika, fisika, biologi, dan
lain-lain. Level kedua adalah pembelajaran bagaimana cara
belajar. Termasuk dalam level ini adalah belajar membaca efektif, menghafal
cepat, berfikir kreatif, dan lain sebagainya. Level ketiga adalah
belajar mengubah atau membangun suatu paradigma. Level keempat adalah
belajar tentang pandangan dunia terhadap alam semesta ini.
Sangat disayangkan sekali, pendidikan di Indonesia
terlampau menekankan level pertama. Sehingga anak didik tidak begitu faham
bagaimana cara belajar yang efektif. Hal ini mengakibatkan belajar justru
berubah menjadi beban. Tidak lagi dipandang sebagai suatu kebutuhan oleh anak
didik. Sistem pendidikan, minimalnya secara terencana harus melakukan
pembelajaran pada level pertama dan kedua.
Saat ini sedang dikembangkan kecerdasan berdimensi jamak
atau multiple intellegence. Model kecerdasan ini pertama kali
diperkenalkan oleh Howard Gardner, seorang profesor pendidikan dari Harvard
University. Multiple Intellegence meliputi kecerdasan
linguistik, kecerdasan matematis-logis, kecerdasan spatial, kecerasan musik,
kecerdasan gerak, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal, kecerasan
rasa dan kecerdasan intuisi. Multiple Intellegencemencakup IQ (Intellegence
Quotient), EQ (Emotional Quotient), dan AQ (Adversity
Quotient).Dengan menggunakan model ini membuka peluang bagi setiap manusia
untuk cerdas, kreatif dan jenius.
image source bing.com
Merujuk pada pandangan
gardner Curriculum: Foundations, Principles, and Issues mengatakan Kita
harus memelihara semua jenis kecerdasan dan semua jenis keunggulan yang
berkontribusi terhadap nilai dari individu dan masyarakat. Kita harus
mempertimbangkan fleksibilitas anak-anak dan remaja, berbagai kemampuan dan
cara berpikir dan pembelajaran mereka, yang semakin disaring melalui teknologi.
Gardner menyebut generasi muda saat ini sebagai "Generasi Aplikasi".
Dari
pandangan Gardner tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa Pembelajaran sains di era abad 21 sebaiknya
dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiri) dengan pendekatan
berpusat pada siswa (student centered learning) untuk menumbuhkan kemampuan
berpikir kreatif (creative thingking) dan berpikir kritis (critical thingking),
mampu memecahkan masalah, melatih kemampuan inovasi dan menekankan pentingnya
kolaborasi dan komunikasi. Pendidkan sains juga harus mampu berkembang dan
menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan teknologi yang selaras dengan
nilai dan budaya-budaya yang ada didalam masyarakat.
image copyright kemendikbud
Hal ini tentu sudah sejalan dengan Tentu hal ini
sejalan dengan K-13 berbasis karakter. Kurikulum berbasis karakter yang telah
dikembangkan untuk penguatan nilai-nilai karakter atau budi pekerti
(melibatkan aspek pengetahuan, perasaan, dan tindakan) peserta
didik, dengan mengangkat materi atau
masalah-masalah yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai kebudayaan yang ada dalam
masyarakat kedalam topik–topik
kurikulum, dan dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks
kehidupan peserta didik sehari-hari, dan menghubungkannya dengan
konsep-konsep yang ada dalam pokok bahasan.
pertanyaan yang ingin penulis ajukan :
1. bagaimana cara terbaik guru untuk mengarahkan siswa agar berkembang sesuai dengan bidang kecerdasannya masing-masing?
2. bagaimana cara mengorganisasikan kecerdasan siswa dikelas sehingga tidak ada anak yang merasa kecerdasannya kurang dihargai?
3. seberapa penting EQ (Emotional Quotient) atau kecerdasan emosional anak dalam proses pembelajaran?
x


Menarik sekali dan cukup padat pembahasannya..
BalasHapusApakah K13 sudah memenuhi kriteria pembelajaran abad 21?
Dalam pembelajaran di kelas, sebagai seorang guru tentu dapat memandang mana siswa yang memiliki kecerdasan lebih dan memiliki kecerdasan yang kurang, untuk mengatasi kecerdasan yang beragam dan supaya tidak ada anak yang merasa kecerdasannya kurang dihargai, guru dapat menerapkan pembelajaran tutor sebaya yang memiliki kecerdasan lebih membantu kawannya yang lain dalam belajar.
BalasHapusSalam
Agung Laksono
Assalamualaikum wr.wb
BalasHapusArtikel nya menarik
Saya mencoba menanggapi pertanyaan no 3. Seberapa penting EQ dalam pembelajaran ?
Kecerdasan emosional (EQ) sangat penting bagi Anda dan masa depan Anda. Pentingnya kecerdasan emosional (EQ) yang lain bagi Anda, antara lain mempengaruhi:
1. Kinerja Anda ditempat kerja
Memiliki kecerdasan emosional (EQ) yang tinggi dapat membantu Anda mengatasi kompleksitas sosial ditempat kerja, memimpin dan memotivasi orang lain dan unggul dalam karir.
2. Kesehatan fisik
Jika Anda tidak dapat mengontrol dan mengelola emosi dapat mengakibatkan Anda merasa tertekan dan stres
3. Kesehatan mental
Stres yang tidak terkendali juga dapat mempengaruhi kesehatan mental Anda, membuat Anda rentan terhadap depresi dan kecemasan
4. Hubungan Anda
Dengan memahami dan mengendalikan emosi Anda, Anda akan lebih mudah memahami kondisi orang lain sehingga dapat membuat Anda lebih mudah untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain serta menjadi pribadi yang menyenangkan.
Terima kasih
Artikelnya sangat menarik sekali..
BalasHapusBaik saya akan mencoba menanggapi pertanyaan yang nomor 1.
Pada saat proses pembelajaran terjadi, guru bisa melihat bidang kecerdasan yang di miliki dari masing masing anak didik tersebut. Baik itu dari keaktifannya, kreativitasnya, maupun dari segi nilai yang di perolehnya.
Setelah mengetahui hal tersebut, maka guru hendaknya mengarahkan peserta didik ini ke arah bidang kecerdasan yang di milikinya.
Salah satu caranya yaitu bisa dengan mengikut sertakan peserta didik ini pada olimpiade sesuai dengan bidang kecerdasannya masing masing. Otomatis dengan adanya hal demikian, maka siswa tersebut akan semakin berkembang dan menggali pengetahuan pada bidang kecerdasan yang di milikinya....
Selain itu, mungkin ada jg siswa yang tidak terlalu memiliki kecerdasan yang menoton terhadap suatu mata pelajaran. Tetapi dia mempunyai suatu bakat yang besar. Contohnya mempunyai bakat di bidang seni. Ini juga merupakan tugas guru, untuk bisa mengembangkan agar bakat dari peserta didik tersebut bisa tersalurkan.
Menanggapi postingan
BalasHapusjawaban atas pertanyaan No 1.
Pada dasarnya Kurikulum 2013 (K13) jika dilaksanakan sesuai dengan sebagaimana mestinya, serta dengan sarana dan sarana yang lengkap. dengan pendekatan saintifik saya fikir sudah mampu menjawab pertanyaan No 1.
terimakasih...
saya menanggapi pertanyaan no 1
BalasHapuscara terbaik guru untuk mengarahkan siswa agar berkembang sesuai dengan bidang kecerdasannya masing-masing? yaitu dengan melihat potensi yang dimiliki siswa itu sendiri, kita contohkan mungkin dia mempunyai kelebihan di bidang biologi maka seorang guru harus memperdalam ilmu biologinya atau siswa itu punya potensi di bidang musik maka itu tugas guru seni untuk menggali potensi di bidang musik, sesungguhnya di dalam proses pembelajaran siswa itu tidak bisa di paksa untuk mendapatkan nilai yang baik klu bukan itu potensinya, maka itu lah tugas seorang guru melihat celah potensi masing -masing anak didiknya.
2. bagaimana cara mengorganisasikan kecerdasan siswa dikelas sehingga tidak ada anak yang merasa kecerdasannya kurang dihargai?
BalasHapussedikit sharing, mungkin saya menjelaskan kiat2 nay sesuai fenomena yang terjadi belakangan, artinya disini peran guru dalam menghargai kecerdasan siswa yang bermacam2 aini perlu di organisisr, contohnya *kurangilah mebuat peringakat2 yang hanya menjadi pembeda masing2 anak jika peringkat membuat beberapa siswa tak dihargai kecrdasanya, *jangan terlalu menunjukan nilai2 siswa yang kurang pandai dalam kelas secara umum, dimana kesan yang ia perolah negatif dari tema lain yang di atasnya. artinya disini tidak mengkotak2an siswa dengan tangga peringkat. tksh
Kerdasan emosional anak dalam proses pembelajaran sangat diperlukan dalam proses pembelajaran khususnya dalam kurikulum 2013 yang dalam proses pembelajaran salah satunya siswa ditutut agar dapat berkolaborasi dalam kelompok yang membutuhkan kecerdasan emosi
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapussaya kan mencoba menjawab pertanyaan nomor 1. pertama guru harus melakukan analisi konteks supaya guru bisa mengenal siswanya dan kelebihan masing - masing siswanya .dalam mengembangkan bakat masing masing siswa maka disini guru harus kreatif dimana guru bisa di asumsikan seperti pelatih sepak bola yang mana seorang pelatih harus bisa menegenal masing - masing karakter pemainnya sehingga dapat menempatkan semua pemain nya pada posisi yang tepat berdasarkan keahlian pemain dari sebab itu pelatih baru mulai mencari strategi dan gaya bermain seperti apa yang cocok digunakan kepada pemain nya,begitu juga guru harus bisa melihat kemampuan masing - masing siswa nya sehingga guru bisa menentukan model pembelajran,strategi, tekhnik dan pendekatan yang dilakukan .
BalasHapusuntuk menjadi pelatih yang baik maka guru harus memiliki potensi sebagai berikut:
1.Kemampuan profesional sebagai guru
2.Mengetahui cara melatihnya
3. Kepribadian yang baik
4.Karakter
selain itu guru juga harus mempunyai keterampilan menejerial yg baik seperti,
1.Keterampilan Tehnis
2.Keterampilan antar personal dalam berkomunikasi dengan sesamanya
3.Keterampilan menyelami keadaan untuk dapat mengambil langkah-langkah yang tepat dalam penyelesaiannya
Assalamualaikum, baik saya akan mencoba menanggapi pertanyaaan nomor satu, menurut saya cara terbaik guru untuk mengarahkan kecerdasan anak2 adalah untuk lebih merangsang siswa bersemangat perlu metode yang membangkitkan motivasi. Motivasi merupakan aspek yang sangat penting untuk membelajarkan siswa. Motivasi dapat diartikan sebagai dorongan yang memungkinkan siswa untuk bertindak dan melakukan sesuatu. Seorang guru harus dapat menunjukkan pentingnya pengalaman dan materi belajar bagi kehidupan siswa, dengan demikian siswa akan belajar bukan hanya sekadar untuk memperoleh nilai atau pujian akan tetapi didorong oleh keinginan untuk memenuhi kebutuhannya.
BalasHapusdengan penjabaran saya di atas menurut saya sudah mewakili untuk mengarahkan kecerdasan anak, tetapi itu terus menerus di ulang.
terima kasih
Menurut penelitian dari Daniel Goleman seorang psikolog dari Harvard University bahwa IQ akan dapat saya akan mencoba menjawab soal no 3. menurut saya EQ (Emotional Quotient) atau kecerdasan emosional anak dalam proses pembelajaran sangatlah penting. Menurut penelitian dari Daniel Goleman seorang psikolog dari Harvard University bahwa IQ akan dapat bekerja secara efektif apabila seseorang mampu memfungsikan EQ-nya.Hal ini dibuktikan dalam penelitian yang dilakukan di daerah kumuh pada kondisi kesulitan ekonomi dan ditemukan data hanya sekitar 20% saja masyarakat yang mempunyai IQ mampu bertahan hidup sedangkan sisanya berasal dari faktor lain termasuk kecerdasan emosi. Kemampuan intelektual hanya merupakan salah satu unsur pendukung keberhasilan sesorang. Apakah keberhasilan ini akan tercapai, tentunya tergantung pada kemampuan sesorang di dalam menggabungkan IQ dan EQ-nya. Hal ini berimplikasi dan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia baik dalam pendidikan maupuan pekerjaannya sehingga mencapai kesuksesan dalam kehidupan di masa yang akan datang.
BalasHapusUlasan materi yang sangat menarik...saya akan mencoba menjawab soal no 3. menurut saya EQ (Emotional Quotient) atau kecerdasan emosional anak dalam proses pembelajaran sangatlah penting. Menurut penelitian dari Daniel Goleman seorang psikolog dari Harvard University bahwa IQ akan dapat bekerja secara efektif apabila seseorang mampu memfungsikan EQ-nya.Hal ini dibuktikan dalam penelitian yang dilakukan di daerah kumuh pada kondisi kesulitan ekonomi dan ditemukan data hanya sekitar 20% saja masyarakat yang mempunyai IQ mampu bertahan hidup sedangkan sisanya berasal dari faktor lain termasuk kecerdasan emosi. Kemampuan intelektual hanya merupakan salah satu unsur pendukung keberhasilan sesorang. Apakah keberhasilan ini akan tercapai, tentunya tergantung pada kemampuan sesorang di dalam menggabungkan IQ dan EQ-nya. Hal ini berimplikasi dan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia baik dalam pendidikan maupuan pekerjaannya sehingga mencapai kesuksesan dalam kehidupan di masa yang akan datang.
BalasHapus